Feeds:
Posts
Comments

Mohon maaf kalau lama hiatus (mengikuti ritme yang punya blog)




Ada kabar mengejutkan dari dunia sepakbola Tim Nasional Indonesia : Zaenal Arief dihukum 6 bulan tidak boleh bermain sepakbola di lingkungan PSSI. Alasannya adalah tindakan indisipliner yang dilakukan oleh Zaenal Arief ketika memperkuat Tim Nas Sepakbola Indonesia di Piala Asia 2007.

za

Alasan yang dipakai oleh Komisi Disiplin PSSI adalah Zaenal Arief (ZA) telah melanggar Pasal 69 ayat 3 Pedoman Dasar PSSI mengenai Timnas. Selain itu ZA juga telah melanggar Pasal 105 Kode Disiplin tentang pernyataan yang bersifat mendiskreditkan. Anehnya (atau lucunya) pasal-pasal yang dimaksud tidak memuat hukuman yang akan dijatuhkan bagi pemain yang melanggar. Oleh karena itu, untuk hukumannya, KomDis PSSI memakai pasal 107 ayat 2 Kode Disiplin, yaitu hukuman bagi pemain yang melanggar dihukum sekurang-kurangnya 6 bulan.

(sampai saat ini saya tidak bisa mendapatkan Kode Disiplin PSSI dan Pedoman Dasar PSSI di internet)

Bukan pasal-pasal (yang juga aneh) yang berkaitan yang membuat saya tersentil, tapi hukuman 6 Bulan tidak boleh bermain sepakbola di lingkungan PSSI itulah yang membuat saya terperangah. Dengan kata lain, ZA tidak boleh bermain sepakbola di TimNas PSSI, di Persib Bandung (sebagai klubnya), dan di turnamen-turnamen/liga-liga apapun sepanjang berhubungan dengan PSSI. Dan itu lamanya 6 BULAN. Apa itu bukan PEMBUNUHAN ?

Sekarang mari kita lihat kasus-kasus lain di luar sana yang berhubungan dengan indisipliner dan tim nasional sepakbola.

  • Roy Keane, seorang legenda Manchester United asal Republik Irlandia, pernah melakukan tindakan indisipliner selama dia bergabung di tim nasional Irlandia. Keane berselisih paham dengan pelatih Mick McCarthy. Roy Keane mempertanyakan strategi McCarthy dan mengkritik suasana tim yang dirasanya kurang baik. Atas perselisihan ini, Roy Keane dikeluarkan dari timnas Republik Irlandia dan tidak ikut tampil di Piala Dunia 2002 di Jepang-Korsel. Selama McCarthy menjadi pelatih Rep. Irlandia, Roy Keane tidak pernah dipanggil ke timnas. Dia dipanggil kembali setelah Brian Kerr menjadi pelatih Rep. Irlandia.

    Yang pasti adalah : Roy Keane tidak pernah dihukum TIDAK BOLEH BERMAIN SEPAKBOLA oleh FAI (Football Association of Ireland) akibat tindakan indisiplinernya itu.

  • Hristo Stoichkov, legenda sepakbola Bulgaria, pernah juga melakukan tindakan indisipliner selama dia bermain di tim nasional Bulgaria. Stoickhkov mengkritik dan mencela tindakan asosiasi sepakbola Bulgaria yang memecat Dimitar Penev sebagai pelatih. Dia juga memboikot untuk masuk ke tim nasional Bulgaria selama tuntutan mereka (Stoichkov, Lubo Penev, dan Ilian Kiriakov) tidak terpenuhi. Bukan hanya itu, dia juga sempat meninggalkan pemusatan latihan timnas Bulgaria dan memilih berlibur. Akibat tindakannya itu, untuk beberapa lama nama Stoichkov tidak ada dalam tim nasional Bulgaria. Dia kemudian bergabung kembali dengan timnas Bulgaria setelah ada rekonsiliasi dengan asosiasi sepakbola Bulgaria.

    Juga yang pasti : Hristo Stoichkov tidak pernah dihukum TIDAK BOLEH BERMAIN SEPAKBOLA akibat tindakan indisiplinernya itu.

Banyak juga kasus tindakan indisipliner pemain sepakbola selama bergabung di tim nasional yang hanya dihukum terbatas tidak boleh bergabung di tim tersebut selama waktu tertentu. Mereka tidak pernah dihukum DILARANG TOTAL TIDAK BOLEH BERMAIN SEPAKBOLA.




********************




Alasan diatas hanya alasan bahwa contoh hukuman seorang pemain yang indisipliner di tim nasional sepakbola. Mereka tidak pernah diputus profesi utamanya sebagai pemain sepakbola.

Sekarang alasan lain mengapa hukuman Zaenal Arief dihukum total tidak boleh bermain sepakbola adalah jenis hukuman yang tidak layak, tidak pantas, dan tidak mendidik untuk perkembangan pemain dan profesi pesepakbola :




1. Tindakan Indisipliner Zaenal Arief adalah dalam lingkup Tim Nasional

Apa yang dilakukan oleh ZA adalah tindikan indisipliner dalam lingkup Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Dalam lingkup yang terbatas itupula, secara logika maka hukuman yang layak dan pantas dijatuhkan untuk ZA adalah hukuman dalam lingkup yang terbatas juga. Dengan kata lain, hukuman ZA itu harus berlaku untuk lingkup Tim Nasional Sepakbola Indonesia saja, dan tidak boleh merembet ke tempat lain.

Jika ZA melakukan tindakan indisipliner di Persib Bandung, maka hukuman yang dijatuhkan adalah hukuman dalam lingkup Persib Bandung saja, dan tidak boleh melanggar area yang lain. Dengan melarang ZA bermain sepakbola secara TOTAL di semua tempat, PSSI telah melanggar area dimana seseorang melakukan suatu kesalahan.

Bagi saya pribadi, hukuman yang pantas dijatuhkan bagi ZA adalah hukuman dalam lingkup Tim Nasional, misalnya Dilarang Bergabung dengan Tim Nasional Indonesia selama waktu tertentu (1-2 tahun). Hukuman ini lebih relevan dengan apa dan dimana kesalahan ZA itu diperbuat.




2. ZA tidak melanggar nilai-nilai Sepakbola

Tindakan indisipliner ZA di timnas (terlambat pulang) bukanlah suatu kesalahan yang melanggar Nilai-Nilai Universal dalam Sepakbola. Tindakan indisipliner itu HANYA melanggar aturan-aturan internal yang berlaku di tim nasional dimanapun di dunia ini. Setiap tim nasional punya aturan-aturan internal dan itulah yang dilanggar oleh ZA dan bukan tindakan tercela melanggar nilai-nilai sepakbola.

Tindakan yang melanggar nilai-nilai sepakbola secara universal antara lain misalnya : memukul wasit, memukul pemain/berkelahi dengan pemain lain, memukul suporter sepakbola, melakukan doping, sepakbola sabun, melakukan suap, perjudian yang berhubungan dengan profesi sepakbola, melakukan tindakan rasisme, dan lain-lain. Tindakan ini adalah tindakan yang melecehkan nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola. Tindakan seperti ini juga melanggar etika profesi sebagai seorang pesepakbola profesional. Hukuman yang layak diberikan untuk tindakan seperti ini adalah DILARANG BERMAIN SEPKABOLA SECARA TOTAL selama waktu tertentu.

Dan ZA tidak melakukan itu. Dia hanya melanggar aturan internal tim nasional saja, sementara dia dihukum seolah-olah dia melanggar nilai-nilai sepakbola.




3. Hukuman ZA merupakan pembunuhan profesi

Hukuman tidak boleh bermain sepakbola selama 6 bulan bagi ZA adalah suatu hukuman yang secara langsung membunuh profesi ZA sebagai seorang pemain sepakbola profesional sementara kesalahan yang dilakukannya bukanlah kesalahan yang melanggar etika profesi pemain sepakbola.

Seorang pemain sepakbola profesional mencari makan dan mendapatkan imbalan atas performanya di lapangan hijau. Sepakbola adalah pekerjaannya, dan dengan hukuman itu PSSI telah “mencabut” profesi itu karena kesalahan yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya sebagai pesepakbola




********************




Saya sangat mendukung tindakan ZA yang mengajukan banding terhadap hasil keputusan Komisi Disiplin PSSI yang menghukumnya dengan hukuman yang tidak sebanding dan tidak relevan atas kesalahan yang diperbuatnya.

PSSI perlu banyak belajar memahami bahwa kesalahan seseorang tidak selalu berhubungan dengan nasionalisme sempit. Profesionalisme di sepakbola tidak boleh dilawankan langsung dengan Nasionalisme ala pengurus PSSI. Nasionalisme anak-anak muda yang bertarung di lapangan hijau pada Piala Asia 2007 kemarin bukan karena jasa PSSI, tapi untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi sepakbola Indonesia.

Ayo Maju Sepakbola Indonesia….




ps : gambar diambil dari sini.

Pele, sang legenda hidup sepakbola asal Brazil, atas permintaan FIFA, pernah mengeluarkan daftar 125 pemain sepakbola terhebat dan terbesar sepanjang abad. Pele tidak memperingkatkan pemain-pemain tersebut tetapi mengurutkannya berdasarkan negara dan benua. Walaupun banyak mendapatkan kritikan, tetapi daftar tersebut setidaknya dapat menjadi acuan untuk melihat pemain-pemain sepakbola terbesar yang pernah ada di jagat ini.

World Soccer Magazine, sebuah majalah sepakbola yang menjadi anggota ESM, juga pernah mengeluarkan daftar 100 pemain sepakbola terbesar sepanjang sejarah. Untuk daftar ini, World Soccer mengurutkannya berdasarkan ranking kemampuan pemain-pemain tersebut. 3 Besar pemain terhebat menurut daftar World Soccer adalah Pele, Maradona, dan Johan Cruyff.

Menjelang Piala Dunia 1998, MasterCard, salah satu perusahaan kartu kredit di dunia, mengeluarkan World Team of the 20th Century. Daftar ini disusun berdasarkan pilihan wartawan-wartawan sepakbola dunia. Daftarnya sebagai berikut :

  • Lev Yashin (Goalkeeper)
  • Carlos Alberto Torres (Fullback)
  • Franz Beckenbauer (Centerback)
  • Bobby Moore (Centerback)
  • Nilton Santos (Fullback)
  • Johan Cruijff (Midfielder)
  • Alfredo di Stefano (Midfielder)
  • Michel Platini (Midfielder)
  • Garrincha (Forward)
  • Maradona (Forward)
  • Pele (Forward)

Sebagian besar daftar pemain yang dikeluarkan versi Matercard memang cocok dan sesuai dengan kemampuannya. Tetapi bagi saya, ada beberapa pemain yang sebenarnya bisa menggantikan pemain-pemain dalam daftar itu.

Untuk posisi kiper, dari dulu saya selalu menjagokan Lev Yashin, The Black Spider, asal Uni Sovyet. Lev Yashin adalah pemain hebat di posisinya, bahkan namanya diabadikan sebagai penghargaan kiper terbaik tahunan (World Goalkeeper of The Year) oleh FIFA menjadi Lev Yashin Award. Sebuah penghargaan yang sangat sesuai dengan kemampuan Yashin.

Untuk posisi kiper, nama lain yang patut dijagokan adalah Gordon Banks (Inggris), Dino Zoff (Italia), Rinat Desayev (Rusia), Peter Schmeichel (Denmark), Pat Jennings (Irlandia Utara), Gianluigi Buffon (Italia), dan Gilmar (Brazil).

Dari sekian banyak nama tersebut, Gilmar mungkin yang paling cocok menjadi pengganti Yashin. Dia pernah membawa Brazil menjadi juara Piala Dunia 1962. Selain itu dia menjadi kiper Brazil di Piala Dunia 1966.

Ada 4 nama lain yang tidak saya utak-utik dari daftar itu : Diego Maradona, Pele, Bobby Moore, dan Franz Beckenbauer.

Mengapa ? Karena 4 nama itu telah menunjukkan prestasi yang luar biasa, baik bagi klub maupun bagi negaranya. Maradona, Pele, Beckenbauer, dan Moore adalah pemain yang telah membawa negaranya menjadi juara piala dunia di masanya, serta mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi setiap tim yang dibelanya.

Jika ukurannya adalah membawa negara menjuarai Piala Dunia, maka Michel Platini dan Johan Cruijff sepatutnya tidak masuk dalam daftar diatas. Platini dan Cruijff tidak pernah membawa negaranya menjuarai Piala Dunia. Platini gagal di Piala Dunia 1982 dan 1986,sementara Cruijff gagal di Piala Dunia 1974 dan 1978.

Siapa yang lebih pantas menggantikan keduanya ? Saya menjagokan 2 nama pemain besar yang sukses membawa negaranya juara Piala Dunia : Zinedine Zidane dan Bobby Charlton. Zidane dan Charlton adalah nama-nama yang, menurut saya, lebih layak menjadi anggota Team of The World.

Tapi memperdebatkan siapa yang lebih layak menjadi anggota Team of the World sangatlah sulit. Ukurannya sangat banyak dan lebih bernuansa subyektivitas. Setiap pemain mempunyai kemampuan yang bisa membuat mereka tidak dapat diperbandingkan. Apalagi ditambah dengan faktor waktu : Apa yang dipertunjukkan di masa lalu sangat berbeda dengan masa sekarang.

Saya pernah ditanya oleh teman saya :

Siapa yang lebih hebat dari antara ketiga pemain ini :

pele

Pele




maradona

Maradona




zidane

Zidane




Saya menjawab :

MARADONA




Saya memang pendukung Argentina, tapi bukan karena alasan itu. Saya pernah menonton Maradona dan Zidane bermain secara langsung lewat televisi, dan saya juga pernah melihat Pele bermain lewat video, dan saya membandingkannya. Dan menurut saya, tentunya secara subyektif, Maradona-lah yang terbaik diantara ketiganya di lapangan hijau.

Teman saya yang mendukung Brazil tentunya lebih menjagokan Pele. ;)

Siapa menurut anda ?




*******************




ps : ini adalah tulisan perdana di SoccerSting, dan semoga blog ini berlanjut dengan tulisan-tulisan lain di seputar sepakbola.

Soccer for All

Blog ini akhirnya terwujud. Segala hal yang berhubungan dengan sepakbola dimuat disini. Induk dari blog ini adalah fertobhades.

Akhirnya…. :-)